Meng-Install Ulang Gaya Minimalis Rasulullah

Mengawali tahun 2021 yang masih dihantui dengan keberadaan covid-19. Maka perubahan gaya hidup adalah cara kita untuk tetap bertahan di bumi sekarang ini.  Mengapa? Sebab biaya hidup yang semakin mahal namun pendapatan sudah sulit didapatkan. Pekerjaan semakin dipersulit. Semua beralih di dunia digital, yang mengharuskan hidup ini juga perlu diinstall. 

Nama gaya hidup ini adalah gaya hidup minimalis. Seperti yang kita ketahui gaya hidup minimalis sudah diterapkan di Negara Jepang. Negara dengan tingkat kedisiplinannya sudah tidak bisa ditandingkan. Mereka adalah citizen yang mematuhi aturan lalu lintas, mengantre dengan tertib, serta menjaga kebersihan. Setidaknya itulah yang dapat kita lihat sekilas dari kebiasaan orang Jepang.

Bukan tingkat kedisiplinan saja yang perlu kita ketahui. Namun, gaya hidup minimalisnya juga. Negara Jepang mendefinisikan orang minimalis adalah orang yang tahu persis kebutuhan pokok untuk dirinya dan mengurangi jumlah kepemilikan untuk memberikan ruang bagi hal-hal yang penting. Orang minimalis bukan berarti memiliki sedikit barang, tapi mereka yang bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan.

Pendapat lain dari Dave Bruno yang dikutip dari Media Indonesia, ada tiga prinsip utama untuk hidup minimalis, yakni reduce (mengurangi), refuse (menolak barang tidak berguna), dan rejigger (menata ulang). Ia juga memiliki prinsip barang yang diperoleh, maka ada barang yang harus didonasikan.”

Apakah bisa Indonesia menerapkan gaya minimalis tersebut? Apalagi Indonesia menyandang peringkat keempat negara yang konsumtif. Saya rasa bisa, dengan mengikuti mayoritas penduduk di Indonesia yaitu Islam. Karena sebuah keyakinan akan mudah untuk melakukan perubahan.

Jika kita kaitkan hidup minimalis di dalam Islam. Islam sudah mengajarinya di dalam Al-Qur’an. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. al-A’raaf: 31)

Islam juga mengajarkan bahwa setiap barang yang kita miliki harus dipertanggung jawabkan. Hal tersebut mengingatkan saya akan ayat ini, “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. al-Mudatstsir: 38)

Selain itu Islam menyebutkan Gaya Hidup Minimalis berkaitan langsung dengan Qonaah dan Zuhud. Qonaah adalah mensyukuri hidup dengan merasa cukup dengan semua yang sudah diberikan Allah Swt. Qonaah adalah Ridho. Ahli berbahasa mengatakan seseorang bisa dikatakan qonaah yaitu dia yang menerima sesuatu dengan penuh keridhoan. 

Beberapa ulama juga menjelaskan bahwa qonaah ialah ridho terhadap sesuatu yang tidak mencukupi, tidak mengandalkan sesuatu yang fana dan merasa cukup dengan apa yang ada (Imam As Suyuti dalam bukunya Mu’jam Maqolidil al Ulum). Al Munawi rahimahullah mengatakan, “Qona’ah adalah mencukupkan dengan yang ada tanpa berambisi lebih”. (At tawaqif ‘ala muhimmati ta’arif).

Bagaimana dengan zuhud? Apakah sama dengan Qonaah? Sebagian orang memang masih salah paham dengan istilah zuhud. Mereka mengira zuhud adalah hidup tanpa harta. Hidup dengan kemiskinan. Lalu apa yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya?

Kita mengambil dari pendapat Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah untuk menjelaskan pengertian zuhud yang ditafsirkan dalam tiga hal: Pertama, Zuhud adalah yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisinya. Tentu saja zuhud ini harus dibangun atas rasa yakin yang kokoh pada Allah Swt.

Kedua, Zuhud terbentuk jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau lainnya. Namun ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia yang masih ada. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang sempurna.

Ketiga, Zuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu zuhud pada dunia. Mereka menganggap bahwa dunia tempat terendah, dan tidak mengistimewakan dunia. Dari ketiga penjelasan tersebut bisa bisa disimpulkan, zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah Swt.

Itulah dua sifat yang perlu kita tanamkan. Supaya hidup minimalis bisa terciptakan. 

Cara efektif lain untuk bisa menerapkan hidup minimalis adalah dengan meniru seorang minimalis sejati. Tidak perlu jauh untuk mencarinya. Sudah ada sejak dulu keberadaanya. Ya minimalis sejati itu ialah Rasulullah Saw.

Influencer yang sangat mempengaruhi umat muslim dunia. Memiliki beribu-ribu followers yang setia ingin bertemu dengannya. Gaya hidup minimalisnya banyak yang mengagumi. Yah, Rasulullah memang pemimpin yang sederhana. Hidup minimalisnya berlandasan iman. Dunia bukan alasan untuk membuat bahagia.

Tinggal di gubuk kecil di sudut masjid. Umar melihat Rasulullah yang sedang berbaring. Beralas tikar kasar. Berselimut kain sarung. Terlihat sudah guratan tikar membekas di tubuh Rasulullah. Umar pun melayangkan pandang ke sekeliling kamar.

Dilihat juga disekililing dapur. Segenggam gandum seberat satu sha’, daun penyamak kulit, dan sehelai kulit binatang.  Menyaksikan kesederhanaan Rasulullah SAW,  Umar pun tak kuasa menahan air matanya. “Apa yang membuatmu menangis, ya putra Khattab?” ujar Rasulullah bertanya kepada Umar.

Umar pun menjawab, “Bagaimana aku tak menangis, ya Rasul, di pinggangmu tampak bekas guratan tikar, dan di kamar ini aku tidak melihat apa-apa, selain yang telah aku lihat. Sementara raja Romawi dan Persia bergelimang buah-buahan dan harta, sedang engkau utusan Allah SWT.”

Rasulullah pun bersabda, “Wahai putra Khattab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” Rasulullah dan keluarganya menerapkan hidup sederhana. Sebagai pemimpin umat, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk senantiasa mensyukuri setiap rezeki halal yang dianugerah kan Sang Pencipta.

Saat wafatnya pun, Nabi tidak meninggalkan warisan berupa harta benda. Hanya dua hal yang ia wariskan untuk umatnya, yakni Alquran dan sunah. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah kerap mengingatkan agar umatnya tak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan hidup. Semoga kita termasuk umat yang mampu mengingat nasihat tersebut. Amiin ya robbal alamin… (nrl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *