Bernyawa di Dunia Digital

Bukan sebuah aplikasi biasa. Aplikasi yang diikuti tanpa ada batas usia. Mulai dari generasi z hingga ke generasi baby boomers memainkan aplikasi ini. Berdasarkan data yang ada, generasi Z adalah mereka yang lahir dan tumbuh ketika internet sudah mewabah. Mereka generasi digital. Remaja yang aktif dan kreatif membuat sebuah konten. Sedangkan generasi Baby Boomers adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang ikut memasuki virus dalam aplikasi ini. Ikutan bermain. Mereka membuat tidak kalah kreatif dengan para generasi Z.

Ya, nama aplikasinya adalah Tiktok. Aplikasi media sosial besar pertama yang berasal dari luar Silicon Valley, platform milik China. Aplikasi yang paling banyak diunduh di akhir tahun 2020. TikTok mengubah jauh lebih banyak daripada sekadar cara kita mengkonsumsi media online.

Tiktok memberikan virus dengan video pendeknya. Berdurasi tidak melebihi satu menit.  Artinya, dalam sekali rebahan, kalian dapat menonton banyak sekali video yang menarik. Video yang dibuat sangat menggugah emosional kebahagiaan. Merekomendasikan konten yang secara tidak sadar kalian minati.

Anehnya di awal tahun 2021, ketika memiliki banyak pengikut di Tiktok semacam menjadi selebriti. Meraup keuntungan dari lirikan sebuah brand di akunmu. Mengiklankan produknya di video, tentunya dengan bayaran yang bisa kamu sesuaikan dengan pihak pengiklan.  Ini adalah sumber utama penghasilan dari seorang Tiktokers.

Namun ternyata aplikasi yang menjadi sumber rezeki ini mendapatkan sorotan kontroversi. Video yang kurang terpuji. Video kurang memberikan edukasi. Sebagian umat islam melarang adanya seorang muslim memakai aplikasi tiktok ini. 

“Misal tampilan-tampilan yang erotis, gerakan-gerakan yang mengundang syahwat, atau ada hal-hal yang langsung bertentangan dengan nilai agama, maka dia masuk dalam kaidah haram,” papar Ustadz Adi Hidayat dikutip dari situs aksi.id.

Ustaz Adi Hidayat menambahkan hukum bermain aplikasi Tiktok menurut syariat Islam. Ia menyatakan perkara yang tidak menimbulkan kebaikan maka hukumnya makruh. Terlebih lagi jika menghasilkan kemaksiatan, sudah tentu bersifat haram.

Sebagai pengguna dan konten kreator tiktok. Semua kembali ke pribadi naluri manusianya masing-masing. Mempunyai akal untuk berfikir. Memilih jalan kebaikan untuk mendapat pahala. Atau sebaliknya, memilih jalan keburukan untuk menimbun dosa. Hidup kita yang menjalani. Takdir yang menuntun kita. Dan Allah yang berkehendak, Insyaallah. (nrl)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *