Belajar Minimalis dari Tokoh Legendaris

Memiliki hidup minimalis, mungkin banyak yang tidak menginginkannya. Hidup yang dibatasi dengan banyaknya barang, namun memiliki luasnya ruangan. Meskipun hidup dibatasi barang, kamu bisa lebih menyayangi barang-barang yang kamu miliki. Lebih bisa untuk menjaga dan merawat. Semua akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang kamu miliki.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (diminta pertanggung jawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”  (HR. Tirmidzi)

Namun konsep hidup minimalis tersebut sudah lama luntur. Budaya minimalis yang sudah di dijalankan Rasulullah menjelma dalam hidup yang konsumtif. Orang- orang sedang terjebak dalam dirinya sendiri. Melakukan pengeluaran yang sebenarnya melebihi batas kemampuan mereka. Ingin diakui kesuksesannya dengan dengan memiliki mobil mewah, rumah megah, gadget seabrek, dan pakaian bermerk. Hidup bertopeng di balik kemiskinan.

Akhirnya, hidup minimalis kembali tren di masa covid-19 seperti sekarang ini. Mungkin, keadaan perekonomian yang merosot, hidup minimalis sedang disorot. Sorotan ini mengarahkan ke tokoh-tokoh minimalis seperti Fumio Sasaki, Marie Kondo, dan Mat D’Avella. 

Fumio Sasaki, Penulis yang menceritakan kehidupan minimalis dalam sebuah buku yang berjudul “Good Things”. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa hidup minimalis adalah dengan mengurangi jumlah kepemilikan. Kita hanya memiliki barang-barang yang paling pokok dan hidup hanya dengan barang-barang tersebut. Tujuannya agar kita bisa lebih fokus terhadap hal-hal yang sungguh penting bagi hidup kita.

Marie Kondo, Wanita berasal dari Jepang yang sedang trend beberapa waktu belakangan ini. Yaitu trend dalam menerapkan tiga prinsip hidup minimalisnya. Pertama less is more. Prinsip ini lebih menekankan pada sikap sederhana dalam memiliki suatu barang. Memakai barang yang sudah ada untuk dimanfaatkan lagi dengan benar. Tidak terobsesi untuk membeli barang lagi.

Kedua, Anti Konsumerisme.  Prinsip ini  muncul berlawanan terhadap gaya konsumtif. Lingkungan sangat berperan penting dalam prinsip ini. Jika lingkungan juga bersikap anti konsumerisme, keinginan untuk memiliki barang juga diurungkan. Karena pada dasarnya membeli barang adalah sebuah tuntutan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan. 

Ketiga, Membuang barang yang tidak dibutuhkan. Prinsip ini ada untuk membiasakan bersikap merelakan. Membuang barang yang menjadi kenangan. Menghindari kebiasaan menimbun barang di rumah karena muncul rasa kasihan terhadap barang tersebut. 

Mat D’Avella seorang filmmaker yang beberapa belakang ini naik daun karena film dokumenternya yang berjudul “minimalism”  di netflix. Film tersebut menceritakan kisah Mat D’Avella mengawali hidupnya menjadi seorang minimalis. 

Di salah satu video channel youtubenya, yang berjudul “Why I Became a Minimalist”. Hidup minimalisnya  terinspirasi dari film favorit di masa kecil yang dibuat oleh Tom Shadyac. Di menit 3.11, Mat D’Avella mulai menyatakan dirinya menjadi seorang minimalis. Dalam waktu 24 jam dia mulai menyingkirkan sebagian besar barangnya. 

Bagi dia kesuksesan terlihat di masa depan yaitu bukan lagi sebuah rumah besar mobil bagus, hal-hal mewah, pagar kayu putih. Namun dia melakukan pekerjaan yang dia sukai. membagikan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Berkontribusi untuk hidup gila, untuk mempengaruhi hidup seseorang dan untuk sepenuhnya mengubah masa depan Dia. 

Itulah beberapa tokoh yang bisa kalian gali cara hidup minimalis di masa kini. Hidup minimalis adalah ‘Keinginan’ dan ‘kebutuhan’ hanya dibatasi oleh garis lurus yang seringkali tak kasat mata. Gaya hidup minimalis hadir untuk memberikan batasan yang jelas di antara keduanya. Ruangan yang lega dan lapang merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai bagi penganut gaya kehidupan minimalis. Jadi kapan kalian memulai hidup minimalis? (nrl)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *