4 Basecamp di Pendakian Gunung Bromo Anti Mainstrem, Yuk Dicoba !

Mendaki, menurut kalian mainstrem nggak sih? Kalau aku sendiri sih itu adalah hal yang sangat menantang jiwa dan anti mainstrem, dimana kita harus bisa melangkah untuk mencapai titik tertinggi. Memuncak juga membuat kita bisa belajar arti sebuah perjalanan dan perjuangan.

Dibutuhkan keberanian untuk bisa mendaki sebab banyak sekali perjalanan yang membuat mata kita buta, disaat jalur yang kita mendaki merasa sudah benar ternyata itu ada salah. Konon katanya alur yang salah tersebut diarahkan oleh penghuni hutan atau jalur disitu agar tersesat. Ngeri juga ya? Dan hal tersebut masih banyak kita jumpai di beberapa gunung di Indonesia.

***

Pendaki tidak akan pernah menemukan puncak yang baru,

kecuali jika dia punya keberanian untuk memulainya.

***

Jika kita tidak berani memulai, apalagi ragu-ragu bakalan tidak sampai tuh tujuan kita, Percaya deh. Apalagi saat kalian merasa sudah sangat lelah, namun puncak dirasa masih terlalu jauh. Disaat itulah mungkin Kamu harus bertanya pada dirimu, apa sebenarnya tujuan dan motivasimu untuk mendaki.

Rasa menyerah pasti ada tetapi tidak sebagian para pendaki, mungkin ini berlaku untuk para pemula yang memberanikan dirinya. Akan tetapi ingatlah bahwa ada banyak orang yang mengalami hal yang sama namun mereka memilih untuk terus bergerak.

***

Kekuatan bukan pada otot, tetapi pada mental.

Keberanian bukan pada tekad, tetapi pada niat.

***

Menuju Titik Perjuangan

Pendakian Gunung Bromo
by @nurul_potret via instagram

Gunung Bromo adalah awal aku memberanikan sebuah tawaran dari temanku untuk mendaki yang paling jauh. Sebenarnya sih udah pernah mendaki, namun cukup mendaki pada level cupu yang tidak mencapai 1000 Meter.

Sedangkan gunung bromo sendiri memiliki ketinggian memiliki ketinggian 2.392 Meter dari atas permukaan laut dan berada dalam empat lingkup kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Kabupaten Malang.

Belum memulai rasanya udah ciut ini nyali. Akhirnya aku menerima ajakan temanku tersebut yaitu Karina, Ina, dan Karina mereka adalah teman kuliahku selama 1 tahun. Dan kini bertemu lagi dengan didampingi Gunung Bromo.

Tepat pada tanggal 22 Februari kita mengawali perjalanan tersebut, dalam benakku ini beneran jadi apa tidak? Empat cewek yang sama-sama pendaki level cupu ingin mendaki Gunung Bromo. Akhirnya itu semua terjawabkan bukan sekedar wacana dan pertanyaan-pertanyaan yang ada mengintari akal pikiranku saja.

Dalam perjalanan kita hanya menelusuri pohon-pohon, jurang, dan para pendaki lainnya. Udara dingin juga mengiringi perjalanan kita, namun itu semua bisa lenyap ketika kita berpelukan. Jaket setebal kasur bisa mengalahkan rasa pelukan persahabatan dan pertemanan kita. Hal terindah dan terkesan itulah aku rasakan ketika pendakian ini.

Selain itu rasa menjaga antara satu sama lain terasa di setiap perjalanan, jika salah satu diantara kita tidak melangkah dengan berdampingan kita bakalan mencarinya. Dan akulah yang membuat mereka khawatir, aku banyak istirahatnya. Ya wajar, diantara mereka aku yang paling gembul, tidak hanya mental saja yang aku bawa ke pendakian, lemakpun juga aku bawa.

Nah, sekitar 3 jam perjalanan mendaki usai, artinya kita sudah mencapai di titik puncak dari Gunung Bromo. Namun, sayang hal kita nantikan yaitu sunset matahari ketika berlabuh di Gunung Bromo tertutup awan kebal.

Jadi bagaimana haruskah aku tiup agar awan tebalnya hilang, hahaha. Namun, selang beberapa menit kemudian awan tebal hilang tapi masih belum jelas, hanya celah sinar sunset saja yang kelihatan.

Hanya satu jam sepertinya kita menikmati keindahan pencipta alam semesta, sungguh rasa takjubku kepada Allah yang telah menciptakan itu semua, sesuai dengan firman Allah Swt :

***

Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang

ada diantara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa capek. (QS. Qaf: 38).

Bukitnya Para Teletubies

Bukit teletubbies Gunung Bromo
By @nurul_potret via instagram

 

Perjalanan kita lanjutkan dengan team travel ke Bukit Teletubie. Bukit ini memang sengaja disebut bukit teletubies sebab bentuknya yang mirip dengan  bukit buatan para teletubies yang ada di acara TV anak-anak.Jika teman teman pernah nonton serial TV anak anak “Teletubbies” ,kalian akan langsung terperangah melihat kemiripan bukit yang ada di serial TV tersebut dengan yang ada di Gunung Bromo ini.

Bukit Teletubbies ini terletak di area yang sama dengan Gunung Bromo, tepatnya berada di Desa Cemoro Lawang, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur.

Untuk sampai ke lokasi ini teman teman dapat menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil. Teman teman juga bisa berkeliling di kawasan Bukit ini dengan menggunakan Kuda yang disediakan oleh warga Bromo. Naik kuda ini tentu akan dikenai biaya sewa.

Jadi buat kalian jangan lewatkan tempat basecamp yang satu ini ya.

Pasir yang Berbisik

Pasir Berbisik gunung bromo
By @nurul_potret

Tidak berhenti sampai disitu kita berlanjut ke tempat basecamp kedua yaitu pasir berbisik.Sesui dengan namanya pasir berbisik, pasir tersebut berhembus terkena angin dan membisiki kita untuk tetap berada disitu, hahaha.

Ey bukan itu loh ya sebenarnya asal usul dari nama pasir berbisik. Adapun Asal usul Pasir Berbisik Bromo ini sangat berkaitan dengan sebuah film yang dibuat oleh sutradara yang bernama Garin Nugroho, seorang sutradara terkenal asal negara Indonesia  beliaulah pencetus pertama kali nama Pasir Berbisik Bromo, di dataran Lautan Pasir Bromo inilah beliau menjadikan sebuah lokasi shooting dari sebuah film yang berjudul “Pasir Berbisik”.

Sejak saat itu lautan pasir wisata Bromo yang terdapat di kawasan wisata Bromo ini terkenal dengan nama sebutan pasir berbisik, Sesuai dengan namanya, karena di Laut Pasir Bromo ini ketika angin bertiup kencang, deru angin yang membawa butiran-butiran pasir bagaikan bisikan-bisikan yang menyerukan keistimewaan wisata Bromo.

Pasir berbisik ini juga masih satu lingkup dengan kawasan bukit teletubies dan sangat lah muda untuk bisa kesan, bahkan bisa di tuju dengan berjalan kaki, akan tetapi biar resikonya membutuhkan waktu yang lama, Pada umumnya para wisatawan mengunakan Jasa Transportasi Wisata sejenis Motor Trail, Jeep Bromo, Kuda Bromo.

Kawah Gunung Bromo

Ini adalah tempat basecamp terakhir yaitu kawah Gunung Bromo. Tetapi sayang sekali teman ku tidak mau naik keatas lagi, sedangkan baterai kamera juga habis jadi sembari kita menunggu teman se-travel naik ke atas, kita nongkrong di warung.

Sedikit informasi juga bahwa kawah gunung Bromo ini berasal dari letusan gunung Tengger dengan ketinggian 4.000mdpl (Salah satu gunung tertinggi dan terbesar), kemudian terjadi letusan besar dan dahsyat sehingga terciptalah sebuah kaldera besar dan lautan pasir, di tengah kaldera tersebut terdapat sebuah Gunung aktif yang di beri nama Bromo (Brahma: Sebuah nama dewa untuk agama hindu).

Nah itu dia kisah perjalanan ku selama menjelajahi Gunung Bromo dan menemukan 4 tempat basecamp yang menarik dan jangan sampai kelewatan, jangan seperti aku yang tidak naik ke kawahnya Gunung Bromo, huhuhu sedih dan nyesel sampai sekarang.

Di setiap perjalanan memanglah lelah, namun setiap langkah kita akan mendapatkan beberapak keajaiban yang Allah Swt sugguhkan secara gratis untuk kita. Jadi apa salahnya untuk menikmati keindahan yang sudah disugguhkan, daripada mall-mall buatan yang besar yang hanya menyuguhkan kenikmatan duniawi saja.

Aku adalah penikmat alam dimana inginkan aku menuliskan setiap perjalanan  untuk menyatukan dunia ini ” Connecting World With Word” , ikuti kisahku di Hownesia.

Banyak sekali cerita dan artikel-artikel informasi yang mendombrak dari keindahan alam di Indonesia dan kebudayaan Indonesia seperti rumah adat, alat musik tradisional, tari tradisional, dan pakaian adatnya.

Tinggalkan komentar